Tuesday, March 12, 2013

Pantai Kuta Saat Hari Raya Nyepi

 Pantai Kuta Lengang Saat Hari Raya Nyepi
KUTA, KOMPAS.com — Situasi obyek wisata Pantai Kuta, Bali, lengang pada saat umat Hindu melaksanakan ritual Catur Brata Penyepian menyambut Tahun Baru Caka 1935, Selasa.
Hanya suara debur ombak yang berkejaran sepanjang hari mewarnai tujuan wisata favorit di Pulau Dewata itu.
Beberapa petugas keamanan desa adat atau pecalang yang terlihat lalu lalang di sekitar Pantai Kuta.
Para wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, yang menginap di sejumlah hotel di Kuta itu jauh-jauh hari sebelumnya mendapat informasi agar mereka tetap berada di dalam areal hotel.
"Kami sudah memberitahukan kepada para tamu di hotel ini untuk tidak keluar saat Nyepi. Mereka sama sekali tidak diperkenankan keluar dari areal hotel," kata General Manager Grand Istana Rama Hotel, Andi Ananto, di Kuta.
Pihaknya sama sekali tidak memperkenankan para tamu beranjak ke luar hotel sebagaimana instruksi aparat Desa Adat Kuta, kecuali dalam keadaan darurat, seperti sakit atau hendak melahirkan.

Kapolda Pakai Sepeda Keliling Kuta Pantau Suasana Nyepi

Kapolda Pakai Sepeda Keliling Kuta Pantau Suasana Nyepi



DENPASAR, KOMPAS.com -- 

"Kondisi keamanan di Bali selama Nyepi hingga malam ini masih aman terkendali, tidak ada gangguan berarti dalam pelaksanaan ibadah Tapa Brata Penyepian," ujar Arif di sela pemantauan.
Kapolda menjelaskan, secara umum pelaksanaan Catur Brata Penyepian di Pulau Dewata hari ini berjalan lancar. Seusai Catur Brata Penyepian pukul 06.00 Wita besok pagi, seluruh warga Bali bisa kembali beraktivitas dengan normal.

 Pakai Sepeda, Kapolda Keliling Kuta Pantau Suasana Nyepi

 Kepala Kepolisian Daerah Bali, Irjen Pol Arif Wachyunadi turun ke jalan memantau langsung suasana Nyepi di kawasan wisata Kuta, Selasa (12/03/2013) malam. Bersama pecalang desa adat setempat, Kapolda bersama Kapolsek Kuta menggunakan sepeda gayung menyusuri jalan-jalan di seputaran Kuta yang sedang gelap gulita.
Dari hasil pantauannya mulai pukul 19.00 Wita hingga 22.00 Wita, kawasan Wisata Kuta masih aman dari gangguan Kamtibmas. Kapolda berharap warga bersama-sama menjaga keamanan di malam Nyepi ini.

Puncak acara Nyepi

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.


Ngembak Geni (Ngembak Api) Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. Hidup di dalam kerukunan dan damai.

Pengertian Nyepi

 Pengertian Nyepi

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali. [sunting]Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis.

Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam. Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya.


Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya.

Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.